Berdasarkan kondisi minat literasi nasional yang masih berada pada kategori sedang serta realitas lokal Kabupaten Majalengka yang menunjukkan keterbatasan akses bacaan dan belum meratanya ekosistem literasi, diperlukan langkah kebijakan yang lebih sistematis dan berbasis data. Pemerintah Kabupaten Majalengka perlu memandang literasi sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia, bukan sekadar program sektoral atau kegiatan seremonial. Oleh karena itu, kebijakan literasi harus ditempatkan secara strategis dalam perencanaan pembangunan daerah. Pemerintah daerah disarankan untuk memperkuat kebijakan literasi berbasis wilayah dengan melakukan pemetaan kondisi literasi di setiap kecamatan dan desa. Pemetaan ini mencakup ketersediaan perpustakaan, taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, jumlah dan kualitas koleksi buku, serta tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan literasi. Data ini penting agar program literasi yang dirancang tidak bersifat umum dan seragam, melainkan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat Majalengka, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah dengan akses pendidikan yang terbatas. Selain itu, penguatan peran perpustakaan daerah dan perpustakaan desa perlu menjadi prioritas kebijakan. Fakta menunjukkan bahwa rasio buku per kapita di Indonesia masih jauh dari standar ideal, sehingga pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran yang memadai untuk penambahan koleksi bacaan yang relevan, mutakhir, dan sesuai dengan kebutuhan usia pembaca. Koleksi bacaan tidak hanya berfokus pada buku pelajaran, tetapi juga buku literasi umum, bacaan anak, literasi sains, literasi digital, serta bahan bacaan berbasis kearifan lokal Majalengka. Pemerintah Kabupaten Majalengka juga disarankan untuk mengintegrasikan program literasi dengan sektor pendidikan secara lebih kuat. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah perlu diperkuat melalui pendampingan, monitoring, dan evaluasi berkelanjutan. Data penelitian menunjukkan bahwa program literasi yang berjalan tanpa evaluasi cenderung tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan minat baca. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa literasi di sekolah tidak berhenti pada rutinitas membaca, tetapi berkembang menjadi aktivitas memahami, mendiskusikan, dan menulis sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, pemerintah daerah perlu mendorong penguatan literasi digital masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa tingginya penggunaan gawai dan media sosial belum berbanding lurus dengan peningkatan minat membaca secara mendalam. Oleh karena itu, literasi digital harus diarahkan pada kemampuan masyarakat dalam mengakses, memilah, dan memanfaatkan sumber bacaan digital secara produktif. Penyediaan akses perpustakaan digital daerah serta pelatihan literasi digital bagi pelajar dan masyarakat dapat menjadi langkah konkret untuk menjawab tantangan ini. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan literasi. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa program literasi yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, dan masyarakat sipil memiliki dampak yang lebih berkelanjutan dibandingkan program yang berjalan secara parsial. Oleh karena itu, literasi perlu dikembangkan sebagai gerakan bersama yang terintegrasi dalam kebijakan daerah, bukan hanya menjadi tanggung jawab dinas tertentu. Selain aspek program, komitmen anggaran yang berkelanjutan menjadi faktor kunci keberhasilan kebijakan literasi. Tanpa dukungan anggaran yang memadai, fasilitas literasi akan mengalami stagnasi dan kehilangan fungsinya. Pemerintah Kabupaten Majalengka perlu memastikan bahwa kebijakan literasi didukung oleh perencanaan anggaran yang jelas, terukur, dan berorientasi pada dampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan memperhatikan data literasi nasional dan kondisi empiris di Kabupaten Majalengka, dapat disimpulkan bahwa peningkatan minat literasi memerlukan kebijakan yang terencana, berbasis data, dan berkelanjutan. Saran kebijakan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Majalengka dalam merumuskan strategi penguatan literasi sebagai bagian integral dari pembangunan daerah yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing masyarakat.