Wartana

Pembenahan Sarana dan Prasarana UNMA: Masalah Nyata

Pembenahan Sarana dan Prasarana UNMA: Masalah Nyata
BEM UNMA - 2026-02-04 17:25:49
Pembenahan sarana dan prasarana di Universitas Majalengka bukan lagi isu tambahan atau agenda pelengkap, melainkan persoalan mendasar yang secara langsung menentukan kualitas kehidupan akademik mahasiswa. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga menjelang Bulan Ramadhan, kondisi sarana dan prasarana kampus masih berada pada tingkat yang memprihatinkan dan jauh dari standar universitas yang menargetkan diri sebagai pusat keunggulan akademik di Jawa Barat pada tahun 2026.

Mahasiswa setiap hari berhadapan dengan ruang kelas yang tidak sepenuhnya layak, fasilitas pendukung pembelajaran yang terbatas, sanitasi yang belum terjaga secara konsisten, serta lingkungan kampus yang belum mencerminkan kampus sehat. Kondisi ini tidak dapat lagi dimaknai sebagai kekurangan teknis biasa, melainkan sebagai bentuk pembiaran struktural yang berdampak langsung pada efektivitas proses pembelajaran. Ketika universitas terus menuntut mahasiswa untuk produktif, disiplin, dan berprestasi, sementara fasilitas dasar tidak dipenuhi secara optimal, maka terjadi ketimpangan tanggung jawab yang serius.

Menjelang Ramadhan, persoalan ini menjadi semakin krusial. Aktivitas akademik tetap berjalan di tengah kondisi fisik mahasiswa yang menurun akibat berpuasa. Namun ironisnya, kesiapan sarana dan prasarana justru tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Minimnya perbaikan sebelum Ramadhan mencerminkan lemahnya perencanaan dan ketidaksiapan institusi dalam membaca siklus akademik dan kebutuhan mahasiswa. Universitas seolah bersikap reaktif, bukan preventif, dalam mengelola fasilitas kampus.

Lebih jauh, kondisi sarana dan prasarana UNMA mencerminkan wajah tata kelola universitas itu sendiri. Universitas yang sehat dan terkemuka tidak lahir dari retorika visi, melainkan dari keberanian institusi untuk bertanggung jawab atas persoalan dasar yang dialami sivitas akademika setiap hari. Ketika pembenahan sapras berjalan lambat, tidak terukur, dan minim transparansi, maka yang dipertanyakan bukan hanya efektivitas kerja unit teknis, tetapi komitmen pimpinan universitas terhadap visi besar yang telah dicanangkan.

Mahasiswa menilai bahwa pembenahan sarana dan prasarana di UNMA belum menunjukkan arah kebijakan yang jelas dan berkelanjutan. Tidak adanya peta jalan pembenahan sapras yang terbuka kepada publik kampus memperkuat kesan bahwa persoalan ini tidak ditempatkan sebagai prioritas strategis. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang setiap tahun tanpa penyelesaian substantif. Situasi ini berpotensi menggerus kepercayaan mahasiswa terhadap institusi dan melemahkan legitimasi moral universitas sebagai penyelenggara pendidikan tinggi.

Oleh karena itu, pembenahan sarana dan prasarana harus ditempatkan sebagai indikator utama keseriusan UNMA dalam mewujudkan keunggulan akademik 2026. Tanpa pembenahan nyata pada fasilitas dasar, visi universitas hanya akan menjadi dokumen normatif yang tidak bersentuhan dengan realitas mahasiswa. Ramadhan yang akan datang seharusnya menjadi garis batas: apakah universitas memilih untuk berbenah secara sungguh-sungguh, atau terus membiarkan persoalan sapras menjadi beban yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.

Mahasiswa melalui BEM Universitas Majalengka menegaskan bahwa pembenahan sarana dan prasarana bukanlah tuntutan berlebihan, melainkan hak dasar mahasiswa yang wajib dipenuhi oleh institusi. Ketika hak ini terus diabaikan, maka yang terjadi bukan sekadar kekecewaan, melainkan krisis kepercayaan terhadap komitmen universitas dalam menjalankan visi dan tata kelola yang sehat. Pengabaian ini akan menjadi catatan serius atas kegagalan institusional dan berpotensi menurunkan legitimasi moral universitas sebagai penyelenggara pendidikan tinggi yang berorientasi pada mutu dan kemanusiaan.