I. Siapa Kita di Mata Rakyat?
Satu tahun terakhir, wajah Majalengka mengalami perubahan besar karena munculnya industri besar dan pembangunan infrastruktur yang sangat cepat. Namun, di balik kemegahan itu, ada kenyataan bahwa warga masih kesulitan. Sebagai mahasiswa UNMA, kita harus jujur pada diri sendiri: Apakah kita hanya penonton di tanah kelahiran kita? Apakah gelar mahasiswa kita hanya menjadi tiket untuk "melarikan diri" ke zona yang nyaman, atau justru menjadi alat perjuangan bagi mereka yang tidak punya suara?
Kita bukan sekadar angka dalam statistik kelulusan; kita adalah harapan terakhir masyarakat di tengah terpaan modernisasi yang sering kali tidak peduli pada nasib rakyat kecil.
II. Membedah Dosa Kolektif Mahasiswa
1. Intelektualisme yang Terasing (Kuliah hanya untuk Ijazah)
Kita sering terjebak dalam rutinitas belajar yang tidak memberi arti. Pengetahuan hanya terkurung dalam ruangan kelas dan tugas yang diberikan oleh dosen, tanpa pernah dicoba di tempat nyata.
• Refleksi: Kita bangga dengan nilai IPK yang tinggi, tapi takut atau tidak mampu menjelaskan solusi untuk limbah, kemacetan, atau kemiskinan di depan kampus sendiri.
• Tantangan: Ilmu yang kita pelajari adalah milik rakyat.
Mahasiswa Pertanian harus berada di samping petani, Mahasiswa Ekonomi harus berada di samping UMKM, dan Mahasiswa FKIP harus berada di samping anak-anak yang tidak bersekolah. Jika ilmu kita tidak bermanfaat bagi mereka, maka kita sedang melakukan pengkhianatan terhadap intelektualisme.
2. Terjebak dalam Apatisme Digital (Berbicara di Media Sosial, Tersenyum di Nyata)
Ruang digital sering kali membawa kita ke mimpi yang tak nyata. Kita merasa sudah berjuang hanya dengan membagikan postingan atau berdebat di kolom komentar yang tidak berujung.
• Refleksi: Kita lebih mengenal selebriti dari luar negeri daripada warga di sekitar apartemen yang kesulitan makan.
Kita lebih peduli pada tren TikTok daripada perubahan lahan yang mengancam keamanan pangan di Majalengka.
• Tantangan: Media sosial harus menjadi alat untuk menyampaikan ide, bukan tempat untuk membanggakan diri sendiri sementara masalah di lapangan diabaikan.
3. Hilangnya Kepedulian Bersama (Individualisme di Tanah Sendiri)
Budaya individualis mulai melemahkan kita. Terkadang muncul pikiran "yang penting saya lulus cepat," tanpa memperhatikan nasib teman sejawat atau masyarakat yang tersaingkan oleh kebijakan pemerintah.
• Refleksi: Mahasiswa bergerak sendiri-sendiri, fakultas pun berkembang masing-masing.
Kekuatan mahasiswa UNMA melemah karena kita kehilangan rasa bersama dengan rakyat.
• Tantangan: Masyarakat tidak membutuhkan satu orang yang sangat pintar tapi bekerja sendirian, melainkan sebuah barisan mahasiswa yang solid dan bersatu tanpa batas fakultas.
III. Dari Menara Gading ke Akar Rumput
Sudah waktunya kita melakukan perubahan besar dalam cara kita memandang gelar mahasiswa yang kita miliki. Pertama, kita harus mengubah tujuan kuliah kita; sebelumnya kita sering hanya tertarik mengejar gelar demi prestise pribadi atau sekadar jaminan memiliki pekerjaan bagus, namun kini kita harus memiliki niat bahwa setiap materi yang dipelajari adalah bekal untuk menjadi solusi bagi daerah. Kita tidak boleh lagi menjadi "pencari kerja" yang egois, namun harus menjadi "pembuka jalan" bagi kemajuan masyarakat.
Kedua, kita perlu mengubah cara kita bersosialisasi dengan warga. Selama ini, mahasiswa sering hadir di tengah masyarakat hanya sebagai tamu saat KKN atau ketika membutuhkan data riset untuk skripsi. Pola ini harus dihentikan. Kita harus benar-benar menjadi bagian dari warga, hadir untuk mendengarkan keluhan mereka tanpa ada batas, dan memberikan dukungan yang konsisten, bukan hanya datang untuk berfoto lalu pergi setelah keperluan akademik selesai.
Ketiga, dalam menangani isu sosial, kita harus berhenti menjadi pengikut tren yang hanya bersuara saat sesuatu viral di media sosial. Mahasiswa UNMA harus mulai melakukan analisis mendalam mengenai masalah-masalah nyata di Tanah Majalengka seperti dampak dari industri, perlindungan lingkungan, dan hak-hak warga setempat. Terakhir, kita harus menghancurkan dinding individualisme yang membuat kita bergerak terpisah. Solidaritas harus diperkuat; kita harus bersatu sebagai satu kekuatan kolektif mahasiswa yang utuh, karena hanya dengan persatuan ini suara kita akan didengar, dan perjuangan kita untuk rakyat akan menghasilkan perubahan nyata.
IV. Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk satu tahun ke depan, setiap mahasiswa UNMA wajib mematuhi tiga prinsip berikut:
1. Turun ke Bumi: Jangan terlalu berada di dunia akademik yang tinggi. Gunakan bahasa yang bisa dipahami oleh orang awam, dengarkan masalah mereka, dan pahami kesulitan yang mereka hadapi.
2. Kawal Kebijakan Daerah: Pastikan pembangunan di Majalengka tidak melewatkan warga setempat. Jadi bagian dari kelompok yang mengawasi kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat kecil.
3. Pengabdian Tanpa Syarat: Jangan menunggu perintah untuk membantu. Jika ada masalah sosial di sekitarmu, itulah saatnya kamu beraksi sebagai seorang mahasiswa.
V. Penutup
Jangan sampai kita lulus dengan tangan bersih tanpa pernah "berlumpur" bersama rakyat. Mari kita buktikan bahwa mahasiswa UNMA adalah intelektual yang memiliki hati.
"Rakyat tidak butuh teori yang melangit, rakyat butuh bukti dari tangan-tangan mahasiswa yang peduli."