Wartana

BEM UNMA Tinjau Blok Cirelek, Ketua BEM Desak Monitoring dan Pengerukan Sungai Cisuluheun

BEM UNMA Tinjau Blok Cirelek, Ketua BEM Desak Monitoring dan Pengerukan Sungai Cisuluheun
ADMIN - 2026-01-10 07:45:30
BEM UNMA Kunjungi Blok Cirelek, Ketua BEM Tekankan Perlunya Monitoring dan Pengerukan Sungai Cisuhuleun Akibat Sedimentasi Cepat

Majalengka — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Majalengka (BEM UNMA) melakukan kunjungan lapangan ke Blok Cirelek, Desa Nunuk Baru, Kabupaten Majalengka, pada Jumat, 09 Januari 2025. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas laporan warga terkait pergeseran tanah dan abrasi sungai yang semakin mengkhawatirkan, setelah sebelumnya BEM UNMA menjalin komunikasi dengan Karang Taruna setempat melalui media pada Desember 2025.

Dalam kunjungan tersebut, BEM UNMA berdialog langsung dengan warga dan Karang Taruna untuk menggali kronologi serta dampak yang ditimbulkan. Warga mengungkapkan bahwa retakan tanah mulai muncul sejak April 2025. Sejak saat itu, laporan telah disampaikan ke pemerintah desa, kecamatan, BPBD, Dinas Sosial, Baznas hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Namun hingga kini, warga belum menerima penanganan maupun bantuan apa pun.

Padahal dampak pergeseran tanah sudah dirasakan secara nyata. Dua rumah warga mengalami retak pada tembok dan keramik, satu lapangan bola voli amblas hingga setengah bangunan, serta satu bangunan penggiling tepung milik warga turut mengalami kerusakan akibat amblas. Selain kerugian material, kondisi ini menimbulkan tekanan psikologis bagi warga, terutama saat hujan turun dan pada malam hari, karena adanya kekhawatiran longsor dan abrasi susulan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sedikitnya sepuluh rumah warga lainnya kini berada dalam kondisi terancam apabila tidak segera dilakukan langkah mitigasi yang serius.

Ketua BEM UNMA, Nendi Nurdiana, menyoroti kondisi Sungai Cisuhuleun di Blok Cirelek yang mengalami sedimentasi cepat dan perubahan alur. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan rutin dari pihak berwenang.
“Kondisi sungai saat ini menunjukkan sedimentasi yang sangat cepat dan alur air yang bercabang. Seharusnya pemerintah daerah bersama BBWS tidak hanya menunggu laporan warga, tetapi aktif melakukan monitoring berkala dan pengerukan sungai. Normalisasi terakhir dilakukan pada 2018, dan jelas itu sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang,” tegas Nendi.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, alur sungai yang bercabang serta sedimentasi yang tinggi menjadi faktor utama yang mempercepat abrasi dan pergeseran tanah di kawasan permukiman warga.

Warga Blok Cirelek berharap adanya penanganan terpadu dan berkelanjutan. Dalam jangka pendek, warga meminta relokasi sementara bagi warga yang terdampak serta pemasangan bronjong penahan air yang dirancang secara teknis dan struktural. Sementara untuk jangka panjang, warga menginginkan pembangunan turap sungai permanen berbahan beton dan penanaman pohon produktif sebanyak 10 bibit per kartu keluarga sebagai langkah pencegahan bencana yang lebih luas.