BEM UNMA Soroti Sektor Pendidikan yang Belum Memadai di Majalengka
SDN Wanasalam III, Sekolah Tiga Dekade yang Terpinggirkan, Butuh Perhatian Serius dari Pemerintah Daerah
Majalengka, Jawa Barat — Kondisi pendidikan di Kabupaten Majalengka kembali menjadi sorotan publik setelah terungkapnya keadaan memprihatinkan di SDN Wanasalam III, Desa Wanasalam, Kecamatan Ligung. Sekolah dasar yang telah berdiri selama lebih dari tiga dekade ini kini berada dalam kondisi yang sangat darurat dan jauh dari kata layak untuk kegiatan belajar mengajar.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Majalengka (BEM UNMA), Nendi Nurdiana, menyoroti bahwa kasus SDN Wanasalam III Menjadi salah satu dari sekian banyak potret buram sektor pendidikan di Majalengka. “Fasilitas pendidikan yang rusak ini menunjukkan masih lemahnya perhatian pemerintah daerah terhadap pemerataan kualitas pendidikan di wilayah pelosok,” ujarnya. Ia mendesak agar Pemerintah Kabupaten Majalengka segera turun tangan memberikan solusi konkret, bukan sekadar janji.
Berdasarkan penelusuran, SDN Wanasalam III tidak memiliki fasilitas toilet, perpustakaan, maupun mushola. Para siswa bahkan terpaksa melaksanakan salat dhuha berjamaah di emperan tanah. Ruang kelas juga dalam kondisi rusak parah lantai banyak yang pecah, plafon roboh, pintu tidak dapat ditutup rapat, serta material kayu yang lapuk dimakan rayap.
Atap bangunan yang rapuh dan berlubang kerap membahayakan keselamatan siswa. Pernah terjadi insiden genting jatuh yang mengenai kepala murid. Kondisi ini menyebabkan banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya di SDN Wanasalam III karena dianggap tidak aman.
Selain itu, jumlah tenaga pengajar yang hanya delapan orang termasuk kepala sekolah membuat proses belajar menjadi tidak optimal. Jika ada guru yang sakit atau cuti, kegiatan belajar mengajar sering terhenti. Sementara itu, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima tidak cukup untuk memperbaiki fasilitas dasar.
Pengajuan Rehabilitasi Tak Kunjung Direspons
Sekolah telah mengajukan permohonan rehabilitasi total pada tahun 2023, namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan dari pihak pemerintah daerah. Kepala sekolah dan para guru berharap agar Pemerintah Kabupaten Majalengka segera melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya.
Salah satu guru SDN Wanasalam III menyampaikan,
“Yang paling menyedihkan bagi kami adalah melihat anak-anak yang semangat belajarnya luar biasa, tapi harus belajar di ruang yang tidak layak. Mereka berhak mendapatkan tempat yang aman dan nyaman.”
Seruan Aksi Nyata untuk Pemerintah
BEM UNMA melalui ketuanya, Nendi Nurdiana, menegaskan bahwa kasus seperti SDN Wanasalam III seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah.
“Majalengka sedang bicara pembangunan infrastruktur besar-besaran, tetapi pendidikan dasar di beberapa titik justru tertinggal. Ini adalah bentuk ketimpangan yang harus segera diperbaiki,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat, mahasiswa, dan media untuk turut mengawal isu pendidikan di daerah-daerah tertinggal.
“Pendidikan adalah pondasi kemajuan, dan jika pondasinya rapuh, masa depan daerah juga ikut terancam,” tambah Nendi.
Dengan kondisi yang demikian, SDN Wanasalam III menjadi simbol nyata perlunya reformasi kebijakan dan distribusi anggaran pendidikan yang lebih merata di Kabupaten Majalengka.