Apatisme mahasiswa terhadap kegiatan organisasi mahasiswa di Universitas Majalengka bukan lagi sekadar gejala sementara, melainkan telah menjadi pola yang berulang dalam dinamika kemahasiswaan. Rendahnya partisipasi mahasiswa dalam berbagai agenda organisasi, khususnya dari kalangan mahasiswa non-pengurus, menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam relasi antara organisasi mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri. Pertanyaannya, apakah mahasiswa benar-benar apatis, atau justru organisasi mahasiswa yang gagal menghadirkan ruang yang bermakna?
Dalam praktiknya, sebagian besar kegiatan organisasi mahasiswa masih berputar pada agenda seremonial dan rutinitas struktural yang nyaris tidak berubah dari periode ke periode. Rapat kerja, pelantikan, seminar, dan diskusi formal dilaksanakan lebih sebagai kewajiban organisasi daripada sebagai kebutuhan mahasiswa. Pola kegiatan semacam ini melahirkan kejenuhan kolektif, karena organisasi tampak sibuk ke dalam tetapi kehilangan daya tarik ke luar. Jika kegiatan organisasi hanya menjadi rutinitas tahunan, lalu di mana letak nilai transformasinya bagi mahasiswa?
Lebih jauh, krisis relevansi organisasi mahasiswa menjadi faktor utama yang memperkuat sikap apatis di kalangan mahasiswa Universitas Majalengka. Banyak program kerja tidak bersentuhan langsung dengan realitas mahasiswa yang saat ini dihadapkan pada tekanan akademik, tuntutan ekonomi, serta kebutuhan akan keterampilan praktis dan ruang ekspresi yang nyata. Ketika organisasi mahasiswa tidak mampu menjawab persoalan tersebut, mahasiswa secara rasional memilih untuk menjaga jarak. Untuk siapa sebenarnya organisasi mahasiswa ini berjalan untuk mahasiswa atau untuk struktur organisasi itu sendiri?
Budaya organisasi yang cenderung eksklusif juga memperparah kondisi ini. Organisasi mahasiswa sering dipersepsikan sebagai ruang milik segelintir pengurus dan lingkaran tertentu, bukan sebagai rumah bersama mahasiswa Universitas Majalengka. Bahasa organisasi yang kaku, dominasi senioritas, serta minimnya ruang dialog terbuka menciptakan jarak psikologis antara organisasi dan mahasiswa. Apakah organisasi mahasiswa masih menjadi wadah pembelajaran kolektif, atau telah berubah menjadi ruang elit yang sulit diakses?
Apatisme mahasiswa juga dapat dibaca sebagai bentuk kritik diam. Ketika mahasiswa tidak hadir, tidak merespons, dan tidak terlibat, hal tersebut mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap organisasi mahasiswa sebagai representasi aspirasi mereka. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka organisasi mahasiswa berpotensi kehilangan legitimasi sosialnya. Regenerasi kader akan melemah, kepemimpinan mahasiswa akan bersifat administratif, dan organisasi hanya akan berjalan sebagai formalitas struktural. Apa arti organisasi mahasiswa jika tidak lagi memiliki basis partisipasi mahasiswa?
Situasi ini menuntut refleksi dan pembenahan menyeluruh terhadap arah dan orientasi organisasi mahasiswa di Universitas Majalengka. Organisasi mahasiswa perlu berani mempertanyakan kembali relevansi program, pola kaderisasi, serta keberpihakan mereka terhadap kebutuhan mahasiswa. Pergeseran orientasi dari kegiatan seremonial menuju program yang berdampak nyata, inklusif, dan partisipatif menjadi keharusan, bukan pilihan. Apakah organisasi mahasiswa siap berbenah, atau akan terus mempertahankan pola lama yang justru menjauhkan mahasiswa?
Dengan demikian, apatisme mahasiswa Universitas Majalengka seharusnya dipahami sebagai alarm kritis bagi organisasi mahasiswa. Alarm ini menuntut keberanian untuk berubah, bukan sekadar upaya menyalahkan mahasiswa. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa mahasiswa apatis, melainkan apakah organisasi mahasiswa masih relevan dan layak diperjuangkan oleh mahasiswa itu sendiri?